Minggu, 23 Agustus 2009

gagasan



Membumikan spirit;
Adil ka’ Talino, Bacuramin ka’ Saruga, Basengat ka’ Jubata
untuk Indonesia Damai

By. Hendrikus Adam*

Dirgahayu kemerdekaan negeri ini (Indonesia) baru saja berlalu. Di bulan yang bertepatan dengan peringatan moment bersejarah bagi bangsa Indonesia 64 tahun silam, segenap warga negeri ini kembali pula dihadapkan pada suasana Bulan Suci Ramadhan. Bagi sebagian besar saudara kita umat muslim khususnya, bulan ini sungguh penuh berkat. Syarat pesan religius yang terkandung didalamnya. Keduanya peristiwa ini terjadi di bulan Agustus kali ini. Momentum ini pula dapat kiranya dimaknai sebagai peristiwa penting untuk kita melakukan refleksi bersama dalam menyongsong masa kini dan esok.
Pada moment bertepatan dengan tanggal diproklamasikannya kemerdekaan NKRI misalnya, segenap komponen bangsa Indonesia diajak untuk mengenang peristiwa silam saat dimana negeri ini dinyatakan bebas dari penjajahan kaum penjajah tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945. Warga Indonesia saat itu dengan tegas menyatakan bebas diri dari kungkungan kaum imperialis. Semangat untuk merdeka telah lama menjadi mimpi para pejuang kemerdekaan dan seluruh warga Indonesia kala itu. Hal ini Nampak dari begitu besarnya rasa antusias warga diberbagai daerah dengan dikumandangkannya kemerdekaan. Perjuangan pasca kemerdekaan masih harus mendapat perhatian anak bangsa kala itu.
Kemerdekaan ternyata tidak serta merta membuat anak bangsa terbebas merdeka dari lilitan persoalan bangsa. Hingga saat inipun, kemerdekaan yang telah berumur lebih dari setengah abad itu masih saja menyisakan persoalan yang harus mendapat perhatian serius segenap komponen bangsa. Negara Indonesia merdeka, terbebas dari penjajahan bangsa kolonial. Namun demikian, warga bangsa ini harus terus berjuang memerdekakan diri dari persoalan bangsa. Kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan dan bencana turunannya, perampasan hak atas tanah masyarakat pedalaman, perdagangan anak dan wanita, persoalan korupsi, pelanggaran HAM, menguatnya kelompok fundamantalis, makin keroposnya semangat nasionalisme dalam kehidupan bernegara, gema terror yang memberi rasa kurang aman, dan berbagai persoalan bangsa harus dihadapi anak negeri kini. Negara sebagai lembaga payung kehidupan bermasyarakat, semestinya memberikan perlindungan dalam memberikan rasa nyaman dan aman bagi warganya. Pun demikian, warga juga diharapkan partisipasinya dalam menjaga rasa aman bersama. Kesejahteraan rakyat (Latin; bonum commune) menjadi goal yang harus mendapat porsi prioritas negara (pemerintah) kepada warganya. Dengan moment kemerdekaan hendaknya sapat menjadi media refleksi, dimana secara khusus saatnya Negara melalui para aparatur terkait berjuang memerdekakan warganya dari persoalan untuk mencapai kesejahteraan. Negara hendaknya memberi perhatian yang serius bagi persoalan warga, dan bukan malah mengebiri hak rakyatnya dengan berbagai kebijakan dan produk hukum yang tidak berpihak. Komitmen Negara melalui pemerintah terkait untuk melayani warga dari berbagai persoalan yang dihadapi, kiranya boleh menjadi kado istimewa yang diberikan bagi rakyat.
Momentum di Bulan Ramadhan yang penuh berkah, tidak kalah penting bagi umat muslim yang merayakan khususnya dan juga bagi umat manusia secara umum. Dengan momentum bulan penuh berkah yang istimewa ini, segenap kaum muslim khususnya mencoba melakukan refleksi diri dalam rangka mengasah keimanan kepadaNya. Sepanjang bulan penuh makna ini, saudara kita umat Islam melakukan serangkaian aktivitas keagamaan dengan memperbanyak berdoa, membaca Al Qur’an dan melakukan puasa serta berbagai ritual keagamaan lainnya. Singkat kata, momentum ini akan menjadi berkah tersendiri bagi peningkatan keimanan dan amal soleh bagi mereka yang menjalankannya khususnya bagi setiap pribadi umat yang mengamalkan, dan kemudian pula memberi dampak positif bagi lingkungan disekitarnya. Pada akhirnya nanti, momentum indah tersebut akan mencapai perayaan puncak bertepatan pada kesempatan 1 Syawal yakni peringatan hari raya Idul Fitry.
Seperti halnya kedua momentum tersebut yang sudah semestinya mendapat perhatian lebih untuk direfleksikan, maka penulis melihat ada satu semangat yang muncul dari kearifan lokal warga di Bumi Khatulistiwa ini sekiranya dapat menjadi bagian dari bahan refleksi bersama anak bangsa yakni spirit dari pernyataan Adil ka’ Talino, Bacuramin ka’ Saruga, Basengat ka’ Jubata.
Pernyataan umum yang sering terdengar dari kalangan warga suku Dayak Kanayatn yang biasanya diungkapkan diawal dan menutup acara (saat memberi sambutan) dalam berbagai momentum pegelaran adat dan budaya ini bermakna ajakan untuk bersikap adil terhadap sesama, bercermin ke surga dalam setiap perilaku yang dilakukan (menjadikan surga sebagai tolak ukur untuk berperilaku dalam keseharian) dan bernafaskan kepada (dari) Tuhan Yang Maha Esa. Pernayatan ini pula menurut penulis mengandung makna filosofis yang dalam tidak sekedar hanya diucapkan, namun sebuah tuntunan hidup yang positif bagi setiap orang menjalankannya. Adanya kecenderungan bahwa keberadaan kalimat ini hanya dimaknai sebagai ungkapan biasa belaka jelas menjadi ancaman bagi nilai dan spirit yang terkandung didalamnya. Pernyataan dari kalimat tersebut menuntut pemaknaan yang lebih dari yang merasa memiliki dan mengucapkannya. Menyatakan kalimat ini tanpa ada proses pemaknaan yang mendalam, jelas tidak akan memberikan manfaat apa-apa.
Adil ka’ Talino, setidaknya mengandung makna reflektif yang mendalam. Bagi penulis, kalimat ini bukan sekedar ajakan untuk bersikap adil terhadap sesama, namun juga meliputi proses pemaknaan sikap adil yang luas dan hendaknya komperhensif. Sebuah tuntutan untuk senantiasa adil dalam sikap, tindakan dan perbuatan. Pemaknaan kalimat tersebut mestinya pula dapat memberikan dampak rasa adil bagi lingkungan disekitarnya, termasuk keberlangsungan sumber daya alam yang ada. Sikap adil yang menjadi harapan juga terkait dengan upaya yang dilakukan selama ini dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara. Sikap adil setiap orang terhadap dirinya, keluarganya dan lingkungan masyarakat disekitarnya. Sikap adil juga menjadi kebutuhan bagi segenap warga negeri ini atas perlakukan oknum, kelompok, komunitas dan atau perlakuan negara yang tidak semestinya dengan mencederai rasa kemanusiaan pihak tertentu. Pemberian sanksi hukuman secara sepihak, pemberlakuan kebijakan yang mengebiri hak warga, adalah bagian dari cermin sikap kurang sejalan dengan harapan rasa adil dimaksud. Bersikap adil menjadi tuntutan dan sekaligus tanggunjawab yang harus dipikul oleh setiap manusia lintas generasi dan latar belakang.
Selanjutnya, Bacuramin ka’ Saruga yang juga tak kalah penting syarat makna. Ungkapan ini mengamanatkan agar setiap manusia dalam sikap dan prilaku senantiasa bercermin pada dunia lain (surga) yang diyakini sebagai tempat abadi kehidupan manusia setelah dunia fana. Tempat yang senantiasa menjadi dambaan setiap orang saat menghadapi kematian kelak. Dengan bercermin ke surga (menjadikan surga sebagai pembatas dalam berprilaku), perbuatan yang cenderung menyimpang oleh setiap pribadi diharapkan dapat diatasi, sehingga jalan lurus dalam hidup menjadi perhatian yang penting sebagai jaminan untuk mencapai nirwana (surga). Bacuramin ka’ Saruga, kiranya pula dapat menjadi peringatan guna mempersiapkan diri menuju dunia akhirat dengan harus terlebih dahulu “berinvestasi” melalui tindakan dan prilaku yang memenuhi syarat sesuai dengan tuntutan keyakinan masing-masing.
Kalimat terakhir, Basengat ka’ Jubata secara harafiah bermakna bernafaskan (kepada) dari Tuhan Yang Maha Esa. Kalimat ini menegaskan kesadaran sumber darimana kalimat ini berasal bahwa Tuhan menjadi sandaran utama dalam kehidupan manusia. Keberadaan Sang Pencipta dijadikan sandaran dalam kehidupan. Ini menegaskan kesadaran manusia pencipta kalimat tersebut atas kehadiran Pencipta dengan berbagai karyanya atas kehidupan dan segala makhluk hidup termasuk didalamnya manusia. Dengan demikian, hal ini mengaskan pula bahwa Sang Pencipta menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan manusia. Basengat ka’ Jubata pula menunjukkan nilai religius-keimanan yang meyakini adanya Sang Pencipta.
Dengan demikian, Adil ka’ Talino, Bacuramin ka’ Sarga, Basengat ka’ Jubata, adalah kalimat yang syarat makna. Nilai filisofis dari kalimat tersebut hendaknya dapat menjadikan spirit dalam mewarnai cara dan sikap hidup setiap anak manusia. Dengan demikian, dalam proses pemaknaannya kalimat tersebut menjadi bukan hanya milik kelompok tertentu dari mana kalimat tersebut berasal, namun lebih dari itu sedianya dapat menjadi milik semua orang dari berbagai lapisan. Mengharapkan sikap adil untuk dilakukan oleh manusia satu kepada manusia lainnya, menjadikan surga sebagai cerminan dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini, dan menyandarkan kehidupan diri dengan meyakini adanya Sang Pencipta adalah suatu kesatuan dari cita-cita luhur-mulia yang sejalan dengan nilai-nilai religius setiap keyakinan yang pada dasarnya mencintai sikap-sikap kebajikan hidup dalam bermasyarakat. Kalimat ini pula mampu melintasi sekat primordial, sehingga tidak salah andaikata spiritnya dapat mengakar dalam diri setiap orang dengan latar belakang yang beragam.
Sama halnya refleksi atas hari kemerdekaan yang dikenang tanggal 17 Agustus lalu dan peringatan Bulan Suci Ramadhan yang saat ini sedang dijalani umat muslim, maka kalimat yang mengandung makna filosofis tersebut menjadi penting pula untuk direfleksikan bersama segenap anak bangsa ini. Antara Refleksi atas; Dirgahayu RI, Bulan Suci Ramadhan dan Adil ka’ Talino-Bacuramin ka’ Saruga-Basengat ka’ Jubata, hendaknya dapat mendapat pemaknaan tersendiri dengan sungguh-sungguh dalam menciptakan iklim kehidupan bermasyarakat yang kondusif dan harmonis. Bila semuanya dapat dipahami dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran, maka kondisi yang damai, aman dan bersahabat sebagaimana dicita-citakan sangat mungkin terwujud. Keberagaman hendaknya dapat menjadi perekat didalam kehidupan bersama. Keberagaman pula mesti menjadi modal dasar dalam mewujudkan kondisi masyarakat adil-sejahtera yang dicita-citakan (bonum commune), sebuah masyarakat madani yang mempu mempertahankan semangat kebersamaan didalam kebhinekaan antar sesama makhlukNya. Dirgahayu untuk RI ke-64 dan Selamat menunaikan Ibadah Puasa di Bulan Suci Ramadhan. Hendaknya semangat Adil ka’ Talino, Bacuramin ka’ Saruga, Basengat ka’ Jubata dapat menjadi pelengkap diri dalam memaknai peristiwa kehidupan yang saat ini kita jalani. Damaiku, damaimu dan damai untuk kita semua.

*) Hendrikus Adam, Mahasiswa FISIPOL Untan, aktif sebagai Ketua PMKRI Santo Thomas More Pontianak, anggota Jaringan Rakyat untuk Keadilan dan Perdamaian dan Anggota Sahabat Lingkungan Kalimantan Barat (SALAK).

Tidak ada komentar: